Nama Sukamaju lahir dari cita-cita para leluhur: sebuah dusun kecil di lereng Ciremai yang bertekad "suka maju" — gemar berkembang. Dibuka oleh Ki Wangsa dan rombongan perintis pada 1932, wilayah ini semula berupa hutan bambu dan mata air jernih yang kini menjadi sumber kehidupan warga.
Melalui gotong royong lintas generasi, ladang demi ladang dibuka menjadi terasering yang kini tersohor sebagai Panyaweuyan. Pada 1984 Sukamaju resmi berdiri sebagai desa definitif, dan terus bertumbuh menjadi salah satu sentra sayur dataran tinggi sekaligus destinasi wisata unggulan Majalengka.

Ki Wangsa membuka permukiman pertama di sekitar mata air Cimuncang.
Warga bergotong royong menyulap lereng menjadi lahan pertanian bertingkat.
Sukamaju resmi menjadi desa mandiri dengan empat dusun.
Penggerak ekonomi desa: simpan pinjam, pengelolaan air, dan wisata.
Wisata terasering menembus 50.000 kunjungan per tahun.
Transformasi digital layanan publik dan transparansi anggaran.
Menjadi desa dengan tata kelola terbuka, ekonomi tangguh berbasis pertanian dan pariwisata, serta masyarakat yang guyub dan berdaya.
Sukamaju berada di dataran tinggi lereng timur Gunung Ciremai dengan udara sejuk sepanjang tahun.
Data per Juli 2026 — total 6.482 jiwa dalam 2.145 kepala keluarga.
Total anggaran Rp 2.412.500.000 — dikelola terbuka untuk sebesar-besarnya kesejahteraan warga.